• Beranda
  • Subscribe to my RSS
  • Multiply
  • Twitter
  • Facebook
,

Bilik Irwan

Sebuah bilik Kreasi, Inovasi dan Ekspresi

  • Beranda
  • Penggal Puisi
  • Kontemplasi
  • Cerpen
    • Category
      • Category
      • Category
      • Category
      • Category
    • Category
    • Category
    • Category
  • Jurnalistik
  • Fiqh Prioritas
  • Opini
  • Bilik Ilmu
  • Top Stories
    • Category
    • Category
    • Category
    • Category
You are here : Home »
Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan

Sayup-sayup kudengar suara bunda mengalun indah diseberang, mengurai kata, mengukir cinta dijiwa. Bercerita apa yang beliau rasa. Memaknai hidupku dengan ukiran cinta.

" Mungkin irwan tidak tahu hal ini, karena ibu memang tidak memberi tahukannya. Ini hanya sedikit kisah, yang ibu rahasiakan, karena takut irwan akan kecewa mendengarnya. Tapi, karena sekarang semuanya telah terlewati dan berlalu, tidak ada salahnya kalau ibu bercerita, mungkin bisa sebagai kenang-kenangan ataupun sebagai bahan renungan.

Dulu, waktu irwan bertanya tentang dana pemberangkatan ke Mesir, sebenarnya dana itu belumlah ada. tidak ada sepeserpun ditangan. Ibu tidak tahu harus menjawab apa. Tapi, kemudian Makwo berkata pada ibu, 'udah ni bilang aja ada, untuk menyenangkannya. Supaya dia nanti tidak kecewa.' Ibu sebenarnya berat sekali untuk mengatakan, iya, karena memang tidak ada dana sepeserpun. Tapi, akhirnya ibu mengatakan iya, ada. Tanpa tahu harus berbuat apa, karena Makwo terus mendesak. Entah dari mana ibu akan mendapatkannya.

Sebenarnya ibu berharap agar Irwan tidak lulus dalam tes ke Mesir, karena masalah dana tadi. Tapi kenyataanya tidak sesuai dengan harapan ibu. Irwan lulus. Orang-orang bilang, ibu ini orang orang yang bodoh, karena mendo'akan anaknya gagal, 'mana ada orang tua yang mendo'akan anaknya gagal, yang ada itu mendo'akan agar anaknya sukses, gimana kamu ini sih.' Begitulah perkataan orang terhadap ibu.

Ibu sangat membenarkan apa yang mereka katakan, memang ibu akui, ibu ini adalah orang yang bodoh, mendo'akan anaknya gagal.

Waktu itu ibu tidak tahu harus berbuat apa, karena tidak ada dana, karena tidak ada sesuatu yang bisa dijual. Karena kalau irwan tidak lulus, tentu tidak jadi bahan pikiran Ayah da Ibu. Tapi, Allah bekehendak lain, Allah Maha tau apa yang terbaik buat hambanya. Dan itulah yang terbaik. Yang irwan jalani sekarang.

Akhirnya dengan membaca Basmalah Ayah-Ibu mulai segala usaha. Sebagaimana irwan lihat sendirikan sebelum berangkat dulu. Pagi-pagi nderes karet, siangnya pulang, kemudian pergi ketambang, pulang sampai tengah malam. Sekali seminggu buat makanan untuk dijual keliling desa dan PT Sawit. Dengan kerja demikian. Akhirnya, terkumpul sedikit dana. Sebagai tambahan Ayah-Ibu pinjam ke Bank dengan jaminan surat tanah rumah, juga bantuan dari sanak keluarga. Barulah terkumpul dana untuk irwan berangkat.

Ibu bercerita ini bukan bermaksud untuk menyebut-nyebut pengorbanan. Tapi, irwan tahu bagaimana proses irwan bisa sampai ke negri yang irwan impikan dan supaya bisa dijadikan cambuk bagi irwan untuk rajin belajar, 'beginilah orang tua saya mencari dana saya kuliah, akankah sya sia-siakan.' Ibu Cuma berpesan kepada irwan pandai-pandailah dalam memanfa'atkan kesempatan, jangan banyak bermain, rajin-rajinlah dalam belajar. insyaAllah Ayah dan Ibu akan selalu mendo'akan Irwan agar menjadi orang yang sukses.


Percakapan itu berakhir dengan bara yang menyala-nyala dalam dadaku. Memompa semangat yang menggebu makin menggebu. Aku takkkan sia-siakan pengorbanan ini, untuk bersantai atau bermalas-malasan.

"Astaughfirullah…!." Pekikku kaget.

"Sudah jam tujuh pagi. Aku belum shalat shubuh." Segera kuambil handuk. Berlari kekamar mandi. Cuci muka kemudian bewudhu.

"Benar-benar keterlaluan. Shalat shubuh jam segini. Apa kata dunia nanti. Santri Azhar sahalat shubuhnya kesiangan." Tak henti-hentinya aku ngomel diri sendiri. Yang terlalu larut dibuai mimpi-mimpi nggak karuan. Ini juga dampak dari begadang tadi malam. Aku tidur terlalu larut. Akibatnya shalat shubuh kesiangan. Dan memang beberapa hari ini aku sering begadang dan shalat shubuh kesiangan. Begadang kerjanya sih tidak ada yang terlalu bemanfa'at. Ngorbol, nonton dan kadang-kadang membaca. Tapi, lebih banyak mainnya.

"Huh aku benar-benar keterlaluan." Masuk kamar dan shalat.


"Ayo Wan." Teriak Asrun dari luar kamar.

"Sekarang sudah jam setengah delapan nih, nanti kita terlambat." Dia terus mengomentariku dari luar.

"Ya, ya… sebentar lagi juga sudah selesai." Sahutku dari dalam kamar. Hari ini kami akan pergi ngurus Minha di-Baituzzakah Kuwaity. Sebenarnya sih sudah tutup bagi Wafidin Indonesia. Beberapa hari yang lalu aku menghubungi. Tapi, meskipun dibilang sudah tutup, tak ada salahnya kalau dicoba. Kami lambat ngurus dikarenakan Natijah terlambat. Akibatnya pun kami terlambat ngurus minha. Yang memang dari minhah itu penopang hidup dinegri pasir ini. Dan insyaAllah bang Nurman akan membantu.


Jam delapan tiga puluh kami berangkat. Naik mobil putih ke Kairo, jurusan Abut. Diluar jadwal memang. Maklum jam orang Indonesia.

Kami ada enam orang. Dua orang tingkat dua naik tingkat tiga, dan empat orang tingkat satu naik tngkat dua. Abang-abang tingkat dua mereka Tahwil dari Minha azhar ke Minha Baituzzakah. Karena mereka Jayyid. Dan ingin lebih pula Minhanya. Kalau di al-Azhar hanya pas-pasan. Tidak bisa nabung. Habis tuk makan. Kalau di-Baituzzakah memang lumayan besar. Dan bisa ditabung. Tapi, syaratnya, nilai paling rendah harus Jayyid. Kalau kurang dari itu. Tidak bisa.


Lebih kurang setengah sebelas kami sudah nyampai di Kairo. Kami turun di-Muassasah. Lumayan ramai disana. Mobil banyak berlalu lalang. Orang-orang banyak berlintas datang. Cuma sayang, pinggirannya agak jorok, banyak sampah bercecer. Disana ada pedagang kami lima, tidak terlalu ramai. Ya, karena memang disana bukan pasar. Disetiap gang jalan disesakkan oleh mereka yang berlalu lalang dan berdagang.


"Makan yok, bang…?." Tawarku pada bang joe yang berada didepanku. Perutku lapar sekali. Dari tadi menahan lapar. Tadi pagi tidak sempat sarapan, keburu-buru.

"Antum lapar…?." Tanya beliau sambil menghentikan langkah.

"Iya nih bang, laper banget. Tadi belum sempat sarapan." Jawabku.

"Boleh, kita makan apa." Beliau balik bertanya.

"qibdah aja bang kebetulan ada dekat sini." Tawarku.

"ya, boleh deh." Jawab beliau singkat.


"Din antum mau makan nggak" Tanya bang joe pada bang Udin yang berada disampingku.

"Nggak, Syukran. Ana makan roti aja." Jawab bang Udin.

Azra'I dan Ashrun tampaknya juga tidak mau makan qibdah.

Azra'ikan paling nggak tahan makan qibdah, kecuali kalau tedesak. Namanya juga tedesak. Apa aja habis dilahap. Kalau Ashrun nggak tau deh.


"'Aiz qibdah tsalasah." Pinta bang Joe pada penjual. Ya, kami hanya betiga yang mau makan qibdah, Aku, Izul dan bang Joe. Yang memang sangat lapar, apalagi Izul. Dimobil tadi dia hampir muntah, karna perut kosong yang belum diisi. Untung dia bisa menahan, kalau tidak. Wah, kasihan banget tuh yang punya mobil.

"bang Tajuddin, Azra'I dan Ashun, mana bang." Tanyaku pada bang Joe yang sedang menggerutu, qibdah-nya sedikit banget.

"Nggak tau, tadi ada disana." Menunjuk entah kemana sambil terus mengunyah qibdah yang tinggal seperempat.


****


"Jadi disini toh antum semuanya. Makan nggak ngajak-ngajak lagi." komentar bang Joe kesal. Karena dari tadi dicariin nggak ketemu, taunya asyik makan disini.

"Aduh, afwan deh. Antum makan lahap banget sih. Kamijadi ikut laper." Jawab bang Udin santai. Sambil terus mengunyah roti yang dibawa dari rumah tadi. Azra'I dan Ashrun makan Kusyari.

"Disini ada Sawarma, ya. Duh, kalau tau. Enak makan Sawarma tadi nih." Aku sedikit kecewa.

"Berapa satu bang." Tanyaku pada bang Udin.

"Mungkin dua pound." jawab bang Udin sambil minum.

Kemudian kupesan satu Sawarma. Makan qibdah tadi belum berasa. Perut masih saja lapar.


*****


"kasihan orang itu ya bang. Barang-barangnya diambil Mabahis." Kataku pada bang Joe.

"Iya sih, tapi juga salah dia. 'kan disini tidak boleh jualan." Jawab bang joe terus melangkah.

"Tapikan seharusnya dipeingatkan dulu. Ini main ambil saja. Kasihan tuh dia." Aku tampak kurang senang tehadap pelakuan Mabahis itu.

"Ya nggak taulah, orang mesir biasanya gitu. Sudah diperingatkan. Malah langgar lagi." Bang Joe terus melaju. Takut telat.

Diloket, kami beli tiket enam buah. Kemudian melangkah lurus kebawah Mahaththah. Menunggu Metro Anfaq atau kereta api bawah tanah.


"Ternyata asyik banget lho, naik kereta api bawah tanah. Diluar long-lorong gelap. Suasana hening hanya gema Metro yang bising. Nggak ada yang rebut kayak naik qithor biasa. Apalagi suara para penjual yang berteriak-teriak. Bikin sumpek.

Tapi saying, aku bediri. Tempat duduk semuanya penuh. Nggak ada yang kosong. Didalam hanya kami saja orang asing, selebihnya orang Mesir. Yang badannya gedek minta ampun. Dua kali lipat badanku.

Lamaku berdiri, di Mahaththah Sadat baru dapat tempat duduk.

"Ah lega rasanya. Pegal juga bediri. Teman-temanku semuanya sudah dari tadi duduk. Hanya aku saja yang belum mujur." Lebih kurang tiga puluh menit kami naik Metro. Akhinya sampai juga ditujuan, boohus.

Kami turun. Melangkah keluar dari metro. Meninggalkan Mahththah Boohus. Naik escalator. Jadi tebayang waktu di Indonesia pergi ke Ramayana dan matahari nih…!.


Seberkas cahaya mencuat, menyambaut kedatangan kami. Didalam Mahaththah emang terang sih. Tapi, terangnya beda dengan terang cahaya yang menyambut kami.

Kami berjalan mencari mobil ke Sari' Syurya.

"Sari' Syurya." Tanya bang johar pada orang mesir, yang lagi nuggu-nunggu penumang tampaknya.

"Na'am." Katanya sambil memandu kami menuju mobil.


Tidak terlalu jauh, hanya beberapa menit, kami sampai di Sari' Syurya. Berhenti disebuah simpang masuk ke Baituzzakah.

Disana ( disimpang ) telah menunggu bang Nurman, seniorku. Yang akan membantu kami mengurus Minha. Karena beliau sangat dekat dengan ustadz Hasan pegawi Baituzzakah. Mungkin karena prestasi beliau, bisa sampai dekat. Beliau adalah orang yang rajin dan pintar. Kalau tidak mana mungkin beliau Imtiyaz.

"Assalamu'alaikum." Sapa kami bersama pada beliau. Yang tampaknya sudah agak lama menunggu.

"Wa'alaikum salam warahmatullahiwabarakatuh." Jawab beliau ramah.

"Gimana kabarnya antum semua." Tanya beliau kembali.

"Alhamdulillah sehat bang." Jawab kami.

"Ayo,nanti kita terlambat." Ajak beliau kepada kami.

Kami terus malaju lurus, mengayuh langkah. Belok kanan. Dan sampai di tujuan, Baitzzakah.


"Ini Baituzzakah bang." Tanyaku sedikit tak percaya. Bayanganku Baituzzakah itu besar dan luas . Karna banyak mahasiswa yang diberi Minha olehnya. Membuatku kembali terbayang waktu memperpanjang Iqamah. Bayanganku juga sama tempanya luas dan besar. Tapi ternyata, eh, tepatnya kecil sekali. malah aku kebasahan nunggu diluar. Nggak salah aku namai Mesir ini negri misteri. Bayangan kita selalu meleset.


"Iya, ini namanya Baituzzakah. Tempatnya para mahasiswa ngurus Minha. Dan kalau ngambil Minha nggak disini, dibank Faisal. Ini hanya tempat Registrasi aja." Bang Nurman menjelaskan kepadaku yang lagi kebingingan. Maklum aku juga baru kali ini kesini.

"o," jawabku agak hambar.


Bang Nurman masuk kedalam ruangan. Sementara kami menunggu diluar. Tidak tau apa yang mereka bicarakan. Diluar tampak olehku Haris dengan baju putih, lagi asyik ngobrol dengan ibu-ibu.


"Mau kemana bang." Tanyaku pada bang Joe dan bang Udin yang pergi meninggalkan kami.

"Mau beli mav didepan." Sambil terus berlalu pergi.

"O." jawabku pelan.


Lama juga kami menunggu. Kurang lebih setengah jam. Asrun, izul dan Azra'i nggak tau lagi perhatian apa. Matanya gerayangan kayak musang mencari mangsa.


"Ayo, ayo cepat. Di isi formulirnya." Bang Nurman keluar membawa tiga formulir. Kami bertiga segera berlari menghampiri.

"Bisa bang." Tanyaku pada bang Nurman

"Alhamdulillah." Jawab beliau. Menyerahkan satu-satu formulir kepada kami

"Ayo didalam aja ngisinya." Ajak beliau.

"Syarat-syaratnya lengkapkan semuakan." Tanya beliau.

"Alhamdulillah udah bang." Jawab Azra'i. Aku hanya diam, khusuk menulis lampiran perintah yang diminta, Ashrun juga begitu.


"Assalamu'alaikum." Sapa bang Joe dan bang Udin yang baru datang.

"Wa'alikum salam." jawab kami.

"Ayo, ayo cepat." Bang Nurman memberi aba-aba kepada yang baru datang. Hanya beberapa menit kami menjawab.


"Hmm, akhirnya selesai juga." Gumamku. Sudah kuperiksa kembali semua. Tidak ada yang tertinggal. Kuperhatikan semuanya pun sudah selesai.

Bang Nurman memberi aba-aba. Agar formulir yang barusan di isi dimasukkan kedalam kotak surat ddiuar.

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Sebenarnya tipis harapanku untuk bisa mendaftar. Karna udah tutup. Tapi Alhamdulillah berkat berdo'a dan bantuan bang Nurman, bisa juga.


"Gimana ceritanya bang, kok bisa dapatkan formulir, padahlkan sudah tutup, dan nggak bisa lagi." Tanyaku penasaran pada bang Nurman.

"Ya, awalnya tadi juga tidak bisa. Tapi Abang lobi-lobi terus. Akhirnya ia ngerti juga. 'yang salah ini bukan kaminya pak. Tapi, natijahnya yang lambat turun. Kami juga ingin cepat. Tapi mau gimana. natijah belum turun-turun. Ya, terppaksa nunggu. Dan baru beberapa hari kemarin turun. Kalau nggak diberi kesempatan,tentu kami tidak dapat Minhah dong pak. Panjang lebar abang menjelaskan. Akhirnya ia baru mau memahami. Dan memberikan formulir ini. Tapi jangan dibilang sama anak Kairo ya. Karna ini khusus anak Zagazig." Panjang lebar bang nurman menjelaskan. Barulah rasa penasaranku sirna.


"Astaughfirullahal'azhim." Aku berteriak kaget.

"Ada apa." Tanya bang Nurman dengan kaget juga.

"Ada yang lupa, bang." Rautku kusut dan tegang.

"Apanya yang lupa." Tanya beliau penasaran

"Waktu ana ngisi formulir tadi. Tasdiq asli tidak ana berikan, yang ana berikan fotokopi keduanya." Aku khawatir dan cemas. Kalau-kalau nanti jadi masalah. Dan gagal mendapakan Minhah Baituzzakah.

"Yang benar," Tanya bang johar yang ada dekatku. Beliau juga sedikit tegang.

"O, InsyaAllah nggak apa-apa. Tapi, waktu Muqobalah nanti jangan lupa dibawa. Dan kalau ditanya yang asli, berikan." Bang nurman meredakan keteganganku.

"Emang bisa bang" aku masih belum terlalu yakin.

"InsyaAllah." Jawab beliau mantap.


Waktu terus merayap. Matahari tlah bergeser dari pusat langit. Namun walaupun demikian, panas tetap menyengat. Kami melangkah pulang dengan Metro Anfak. Berhenti di-Mubarak. bang Nurman tidak sama turun dengan kami. Beliau ada acara di-Mansurah. Kami turun lebih awal.

Kami terus jalan, Keramsis. naik qitar ke-Zagazig. Dan selesailah petualanganku ngurus Minha.

Waktu terus merayap. Matahari tlah bergeser dari pusat langit. Namun walaupun demikian, panas tetap menyengat. Kami melangkah pulang dengan Metro Anfak. Berhenti di-Mubarak. bang Nurman tidak sama turun dengan kami. Beliau ada acara di-Mansurah. Kami turun lebih awal.

Kami terus jalan, Keramsis. naik qitar ke-Zagazig. Dan selesailah petualanganku ngurus Minha.


****


Pagi ini, udara cukup dingin. Malas sekali rasanya bangkit dari persembunyian. Selimut tebal, udara dingin, begitu menggoda untuk kembali melanjutkan pelayaran mengarungi samudra mimpi. Tapi, itu tak mungkin. Pagi ini jatahku piket rumah. Kasihan teman-teman lain, nanti nggak makan lagi, jikalau aku tidur. Dan, juga hari aku ada acara, ke Baituzzakah. Mencek ulang nama yang dulu ditakdim.

Huh, mau tak mau. Aku kemudian bangkit. Mencuci muka kembali. Aku ketiduran lagi ba'da shalat Shubuh. Aku melangkah kehamam.

" Wan, antum pergi bareng nggak " khanova menegurku. Kulihat dia sudah rapi. Sudah bersiap-siap.

" Antum duluan aja. Ana nanti aja. Mau masak dulu." Jawabku. Sambil terus masuk kedalam hamam.

Aku juga rada khawatir kalau nggak keluar di Baituzzakah, karena aku nakdim Cuma disana aja nggak ada ketempat lain. Dengar cerita senior-senior sih, "katanya kalau nakdim di Baitizzakah pasti keluar. Makannya aku hanya kesana saja, dengan alasan optimis diterima. Dan, juga aku nggak kepikiran, nakdim banyak-banyak. Tapi, nggak usah terlalu dipikirinlah, rizki itu ditangan Allah. Kalau emang rekinya disana, ya keluar. Tapi kalau nggak ya...? mungkin ditempat lain. Rezeki nggak kemana-mana.


Lebih kurang setengah delapan, aku berangkat berdua, bareng muhsin. Teman-teman lain sudah pada berangkat duluan. Hanya kami berdua yang tinggal lagi. Kami naik mobil biasa, putih merah. Ciri khas mobil Syarqiyah.

" masya Allah ramai sekali sin " aku heran sekali sambil geleng-geleng kepala.

" iya ramai sekali " muhsin tak kalah heran dariku.

" gila, bisa mati tuh orang, mobil sedang jalan rebutan juga naiknya " kulihat mesir bersaing, sal;ing mendahului memasuki mobil, berdesak-desakan. Laki-laki perempuan sama gesitnya. Aku nggak berani deh bersaing. Bisa tambah penyet badanku yang kwcil ini dijepit badan simesir yang gedek kayak badan gajah. Biarlah aku nunggu aja sampai pada sepi dulu. Tapi, yang kulihat bukannya tambah sepi justru tambah siang tambah ramai. Ah nggak mugnkin aku nunggu sepi, bisa telat aku. Mau nggak mau kupaksakan bersaing dengan si Mesir. Tapi aku tatap kalah gesit dari mereka, selalu aku tertinggal atau keduluan. Ah, aku sempat putus asa. Seamangatku untuk pergi kairo jadi mengendor.

" sabar ya wan, kita tunggu sebenter lagi " muhsin memberi semangat padaku. Muhsin juga kulihat gusar sepertiku. Meskipun demikian ia tetap tenang.

" wan coba lihat mobil hijau itu, kita tanya yuk siapa tahu dia ke ABUD " ajak muhsin padaku.

" ah, nggak mungkin sin, sepengetehuan ana mobil yang ke Kairo itu, nggak ada yang hijau " tolakku.

" kita coba aja dulu, kan nggak ada salahnya " muhsin meyakinku.

" iya deh, kita coba aja " jawabku tak bersemangat sambil mengikuti langkahnya menuju mobil hijau tersebut.

" abud," tanya muhsin pada pada bantng stir

" na'am, abud " jawab sopir tersebut. Muhsin memandangku sambil senyum. Aku jadi tersipu.

" abud wan " sorak muhsin padaku

" ayo, cepat naik " ajaknya bersemangat. Aku hanya mengangguk, mengiringi langkahnya menaiki mobil.

" wah, tempat duduk penuh semua, gimana dong wan " tanya muhsin padaku.

" iya nih " kuperhatikan sekelilingku, nggak ada yang kosong semuanya penuh. Apa aku harus berdiri sampai kairo, bisa mati berdiri aku. Tapi, mau gimana lagi, keadaan memaksa.

" tafadhdhal..." tiba-tiba kudengar suara simesir menyuruh kami duduk. Sayangnya, Cuma satu bangku.

" antum aja deh sin yang duduk "saranku pada muhsin yang berada dekat dengan si Mesir yang nyuruh duduk.

" nggak wan, antum aja yang duduk, ana diri aja " tolaknya, menarik tanganku yang tersembunti balik saku jaket hitam.

" antum lebih dekat. Dan, yang disuruh juga mungkin antum sin, bukan ana. Duduk aja, nanti diambil orang mesir lain lho " kataku pada muhsin, sambil melihat orang mesir lain yang berdiri dibelakangku

" oke deh " tanpa pikir panjang muhsin kemudian duduk.

" antum duduk aja senbelah ana, wan " tawar muhsin, sete;ah menghempaskan badannya keatas kursi.

" iya..." jawabku pendek

Alhamdulillah, akhirnya jadi juga berangkat. Hampir aja pupus semangatku, karena mobil tak kunjung tiba. Tapi emang takdir pergi, meski molor beberapa jam dari waktu yang direncanakan.

Lama berdiri, pegal sekali rasnya, kulihat semuanya pada enak tidur, bersandar pada kursi, aku doang yang berdiri, si mesir dibel;akangku sudah duduk. Huh, capek. Kududuk diatas pinggiran kursi sebelah muhsin. sakit juga sih bokong, lama-lama duduk. Tapi nggak apa deh bisa ngusir pegal barang sebentar.

Dengan badan yang pegal, akhirnya aku dan muhsin sampai juga di Muassasah, bagian kota Kairo. Perjalanan yang melelahkan. Baru kali aku ke Kairo berdiri. Berjalanpun kaku sekali rasanya, jarum-jarum kecil menusuk kakiku. Apabila kubawa berjalan, semakin kencang tusukannya.

" berhenti dulu sebenter sin, kaki ana kesemutan nih " pintaku pada muhsin sraya menahan denyutan kaki yang makin menjadi.

" antum nggak apa-apa wan " tanya muhsin

" nggak, nggak apa-apa, Cuma kesemutan aja dikit " jawabku singkat

" antum sih sin. Duduk nggak bagi-bagi " candaku pada muhsin

" aduh afwan, tadi ana ketiduran dan juga lipa kalau ada yang ketimpa musibah " dia balik mencandaiku

" Nanti deh lain kali, kalu antum berdiri ana duduk. Ana akan persilahkan antum duduk sambungnya mencandaiku

" ha... ha... " ketawa kami serentak

" yok lanjutakan perjalanan, nanti kita terlambat " ajakku pada muhsin. kami kembali melanjkutkan perjalanan. Menyebrangi jalanan yang cukup ramai oleh mobil-mobil.

" Antum tahu tempatnyakan wan " tanya muhsin padaku

" insyaAllah... " jawabku singkat


Kami turun kebawah mahaththah, menunggu metro, setelah beli tiket yan harganya Cuma satu pon. Bisa mondar-mandir seharian didalam tanah bersama metro anfak, asalkan jangan keluar dari dalam tanah, alias jangan keluar gerbang. Cuma beberap menit, metro datang.

" Gedubrak "

" Suara apa tuh." Aku sedikit kaget

" biasa, si Mesir rebutan masuk, cari tempat duduk " muhsin mengingatkanku.

" oo... " bibirku bulat panjang.


****


" dari mana " tanya ust hasan yang sedang berdiri didepan daun pintu.

" indonesia... " jawab kami hampir bersamaan

" Silahkan, sebulan lagi " busyet deh baru aja nyampai, belum juga disuruh duduk. Langsung disuruh pulang. Kejam sekali. Mana pegal kaki yang tadi belum hilang lagi.

" kami mau lihat nama kami pak, apa sudah keluar " tanyaku rada sewot pada ust hasan kepala baituzzakah.

" sebulan lagi " jawab singkat dengan sekenanya.

" boleh kami lihat kertas nama kami, pak " pinta muhsin

" untuk apa. Mau kamu bawa pulang, ambia saja " jawabnya dengan nada nggak bersahabat sedikitpun.

" nggak, pak. Cuma mau lihat aja " muhsin ikut sewot

" apa semua nama sudah keluar pak " aku kembali bertanya

" sebagian " katanya

" sekarang, cepat silahkan. Tadi indonesia, sekarang indonesia. Yang datang selalu indonesia. Padahal negar lain juga banyak. Tapi, nggak kayak gini " pak hasan memegeng bahuku dan mengipas-ngipas tangan kanannya, nyuruh pergi.


Huh, hari aku benar-benar apes, apes sekali. Inimah kata orang sudah jatuh ketibaan tangga lagi. Bagaimana tiadak sudah jauh-jauh dari Zagazig, berdiri lagi. Badan pegal-pegal. Pas nyampai ditujuan, langsung disuruh pulang. Bukannya siduruh duduk. Bagaimana nggak kesal sih. Coba deh kamu.


" eh sin, kita coba Khanova yo'. Gimana mereka, apa berhasil atau nggak " tawarku pada muhsin

" yah boleh " jawabnya singkat.

" gimana wan? " tanya muhsin padaku, ba'da nelpon.

" sama sin, juga disuruh pulang. Bahkan lebih lucu dan agak sadis dari kita "

" maksudnya ? " muhsin tampak penasaran.

" gini. Kan mereka masuk. Pertamanya sih ramah-ramah aja. Entah gimana ceritanya. Si khanova terus melobi. Salh ngomong atau gimana. Langsung aja reut pak hasan berubah " aku menjelaskan panjang lebar hal ihwal masalahnya.

" setelah itu dia disuruh berdiri. Khanova pikir ngapain, suruh berdiri segala. Setelah itu ' silahkan keluar sambung ust Hasan' terang aja mereka dia kaget. Tapi mau gimana lagi. Akhirnya mereka pilang dengan tangan kosong kayak kita. " terangku pada muhsin mengangkat kedua telapak tanganku.

" iya nih. Nggak rezekinya kali, ya wan." muhsin coba menerima segalanya.


" kok lain ustadz Hasan sekarang ya " muhsin membuka pembicaraan.

" kemaren ramah sekali " sambungnya.

" iya nggak tahu nih. Mugnkn aja dia lagi kesal. Kalau orang mesir, biasanyakan kalau lagi kesal atau marah, semua urusankan bisa jadi berabe" aku coba bijak, meskipun hatiku juga ikut ndongkol. Karena nggak terima digituin. Tapi mau gimana lagi. La wong yang butuh kita, yakan. Ah, udahlah mungkin nggak rezekinya kali.


" wan sekarang kita ke Majlis A'la yo' " muhsin memegang pundakku.

" apa, ke Majlis A'la " aku sedikit kaget.

" jalan lagi, yang benar aja sin " keningku sedikit berkerut. Bagaimana tiadak capek yang tadi belumlah hilang.

" malas ah, sin, capek " jawabku ketus

" sebentar aja, lihat natiajah ana, keluar apa nggak. Ayolah, temanin ana " muhsin terus membujukku. Memasang muka rayu. Aku juga nggak tega sih. Dia pergi sendirian.

" ya udah deh. Yok kita berangkat " ajakku padanya. Menarik canda tangannya.


****


" mana tempatnya sin. Kok dari tadi nggak ketemu-ketemu " gerutuku. Sudah berputar berkali-kali. Tapi, nggak ketemu juga. Bikin badanku tambah pegal. Dari bawah sampai atas.

" kayaknya itu deh. Yok kita coba masuk gang itu " menunjuk gang yang bagiku semuany asing. Maklum aku belum pernah kesini.

" wah salah. Kayak bukan ini wan. yok kita tanya bapak itu aja. " ajaknya kembali. Aku hanya mengkuti langkahnya. Nggak tahu deh kali masih salah apa betul.

" wan kesana. Jalan abdul Aziz "

" Benar nih sin nggak slah lagi "

" InsyaAllah. Kata bapak itu tadi kesana"

" o, ya udah. Yok " ajakku mulai bersemangat. Ternyata memang benar. Kami terus masuk kedalam. Kulihat pada sepi. Mungkin karena udah jam 14.00 kali, orang-orang udah pada pulang. Kami terus naik ketingkat tiga dan masuk kedalam ruangan yang aku juga tidak tahu. Disana kulihat ada satu orang yang lagi nunggu. Kami duduk dikursi disebelah orang tadi. Muhsin langsung menemui mama, yang ngurus masalah minhah.

Kecil sekali ruangannya. Dan kurang rapi.

" lagi ngurus apa stazd " aku menegur laki-laki yang ada disampingku.

" eh, iya nih. Lagi cek nama. Udah keluar apa belum. " jawabnya ramah

" kalau lagi ngurus apa " ia kembali bertanya padaku.

" ah, nggak. Ana Cuma nemenin temen yang juga pengen cek nama " sambil menghadapkan wajahku pada muhsin.

" Oo... " kepalanya naik turun.


****

" yok wan, pulang " muhsin menghampiriku

" gimana, udah keluar namanya? " tanyaku.

" belum. mungkin sebulan lagi " jawab muhsin. kami terus memacu langkah.

" o gitu. Terus sekarang kita mau kemana. Langsung pulang atau ada yang amu diurus lagi "

" kayak kita langsung pulang aja deh "

" ya udah, yo' " kugandeng tangan muhsin. kami berjalan meninggalkan Majlis A'la menuju mahaththah, yang kebetulan nggak terlalu jauh dari situ.


Benar-benar perjalanan yang melelahkan. Pegal-pegal bedan ternyata tak terobati. Semua gagal. Tapi, mungkin emang udah takdir kali ya. Namanya juga perjuangan. Kalah menang, gagal sukses, itu hal yang biasa. Berakhir sudah perjalananku siang hari ini, dengan hasil Nol beasa, alias nihil. Tapi, yang jelas kita sudah berjuang, sudah berusaha. Hasil mah, Allah yang nentuin.

Selesai deh, petualangan ngurus minha hari ini. Sampai jumpa lagi dipetualangan-petualangan berikutnya.

Dipagi yang indah, selimut hitam menyelimuti kota Zagazik, Raja siang masih terlelap, udara segar tanpa ternoda!, kami berjalan perlahan diantara gang Salam yang masih sepi dari penghuni penuh harap agar hujan tak turun.

“ Mahaththah…Mahaththah…” sayup-sayup terdengar dari kejauhan suara knek mobil memanggil.

“Yallah…yallah…” kami naik dengan wajah berseri-seri dan bahagia. Jalan-jalan man…!. Mobil melaju dengan cepat meninggalkan as-Salam. Jalan demi jalan, tikungan demi tikungan dialui dengan aman, tanpa terasa kamipun telah sampai di Mahaththah.

Tak seperti biasa kali ini Mahaththah sunyi, mungkin karna masih pagi? Orang mesirkan suka tidur ba’da Shubuh, paling-paling bangun jam sembilan atau jam sepuluhan, aktifitasnyakan jam segitu. “Mesir…mesir…?,” gumamku.

Kami terus melangkah penuh energig, bahan bakar tlah penuh, tapi saya kelebihan bahar bakar akibatnya Over, perut mules angin keluar terus, bocor kali ya tengnya…?, tapi hanya beberapa menit, kemudian hilang.

“ Luar biasa,” teriakku takjub memandangi Mahaththah yang luas, rel-rel berserakan dipenuhi Kereta-kereta, warung-warung kecil turut meramaikan, membuat Mahaththah tambah cantik dan asri.

Eh, Apaan tuh yang lagi termenung…? O, rupanya Kereta yang masih terbuai mimpi, kasihan, sepertinya capek banget, kerja siang malam membanting tulang, tak pandang panas tak pandang hujan, wajahnya pucat karna kurang istirahat. Akibatnya seluruh kulit melepuh. Kasihan…! Seluruh kakinya tampak layu tak mendayu tapi tak mengaduh. Jadi ingat ayah dan ibu nih…! Orang yang berjuang penuh semangat dan melabuhkanku di Negri penuh misteri ini, negri penuh tanda tanya.

Kami trus mengayuh langkah sambil menari-nari memainkan kaki diatas rel menuju Kereta jurusan Isma’iliyah yang berbaris menunggu penumpang disudut Mahaththah.

“Tut…tut…! Terdengar suara rebut-ribut, teriak-teriak dengan keras, membuat kami terkejut. Rupanya suara kereta yang sudah pada bangun. Walaupun masih ada satu-satu yang masih ngorok “he…he…! emangnya manusia…! pake ngorok segala!.

“Ayo cepetan, Keretanya mau berangkat”. Teriak bang Rois.

“Yang lain mana”. Sambungnya agak gusar, menghampiriku.

“Ada, dibelakang”. Jawabku padat.

Lima puluh kilo meter perjam kukayuh pedal Jazz yang kupinjam tadi, menembus barisan Kereta yang berjejer-jejer. Kubungkukkan badan sambil tengadah, biar nggak nyantol diperut Kereta yang kasar karna olah raga pagi sore.

Namun dasar sial, “gdubrak…”, kakiku kesandung rel.

“Adu…h,” rintihku memegang lutut yang beradu kayu. Tapi untung aja nggak luka. Dasar orang Indonesia banyak untungnya.

Tanpa terasa Kami semua sekarang telah berada dalam kereta Clas Ekonomi yang compang-camping, maklum…! kamikan orang miskin jadi naiknya cari yang sepadan, sama-sama miskin gitu. Eh, tapi tunggu dulu..! meskipun Keretanya compang camping, nggak kalah saing sama si Ekslusive. Ful AC, Ful Musik dan Ful ‘Isy To’miah, he…he...! Taukan Ful AC…? Ya betul..! AC alami bikin sesak. Pernah tuh… waktu aku ke Kairo naik Kereta yang beginian, pas nyampek, tau-taunya rambut beruban, muka berbedak, baju kayak diwantek, mana baju yang dikenakan hitam lagi, pas turun jadi kuning.

Tau nggak maksud Ful Music…? Salah…! Maksudnya Ful Music Ful suara Simesir yang gedek kaya gledek, teriak-teriak ditambah gendang pintu dibanting, bikin jantungan. Disitu letak kalahnya Class Ekonomi, gendangnya gendang Dangdut lagunya lagu Rock ya nggak nyambung atuh…!. Ah, jadi malu nih…!. Tapi pede man.

Kalau Isy To’miah ya itu…yang biasa dimakan orang Mesir. Mau jualan pak banyak banget bawa isynya. Ha…ha…

Kereta terus melaju melewati rel setapak, meninggalkan Zagazig menuju Isma’iliyah. Kira-kira Isma’iliyah seperti apa ya…? Baru pertama kalinya nih…! Bagus nggak sih…? Atau jangan-jangan kayak…?ah, jadi ngantuk mikirinnya.

“Zzzttt…” bunyi apa tuh kayak mesin Jet.

ha…ha…bang Deni ama bang Rois lagi ngorok, kasihan tuh Simesir nggak nyaman. Perlahan, samar-samar kulihat orang-orang disekeliling, lama-lama jadi kabur dan

“Zzzttt…” ikut ngorok.

*****

Wow…Luar biasa…! tak seperti bayanganku! ternyata Isma’iliyah negri yang apik, bangunannya rapi dan bersih, nggak kayak Zagazig sampah berserakan dimana-mana, bikin kepala puyeng. Taman hijau terhampar luas, angin berhembus menyapu dedaunan kering, pepohonan menari-nari mengalahkan goyangannya inul dan uut, liuk-liuk, bungkuk-bungkuk nggak ambruk. Burung-burung terbang oleng-oleng ditampar angin yang lagi marah. Riak-riak air menciptakan gelombang yang menderu-deru saling kejar-kejaran tuk menerjang karang pinggiran pantai.

Kuhempaskan badan yang mungil itu kesebuah tanggul pinggir jalan tak jauh dari bibir pantai sambil menerima pambagian Isy dari bang Zenal dan bang Fatkholis orang yang selau sibuk sana-sini selama jalan-jalan kami.

Kurasakan seluruh persendian pada nyeri, terlebih baut kaki, kalau tidak kukunci mungkin pada lari. Dengan kaki diselonjor, badan ditegak, mulut disuap, kuhantam isy malang tuk gelang-gelang yang terus menabuh genderang, benar-benar laper nih…!. Maklum habis olahraga. Hal yang sama juga dirasakan abang-abang dan teman-teman, apalagi yang gedek-gedek badan lebih parah lagi, kalau tidak pandai ngatur nafas mungkin udah duluan…? duluan ngabisin isy maksudnya…! Bak pesawat Supersonic terbang Isy diterjang. Apa nggak bisa keselek tuh. Kasihan tuh Isynya…!.

Tak jauh dari tepat kami duduk bang Deni datang membawa air dengan nafas tersenggal-senggal raut wajah kusut mendekat menghampiri kami yang lagi duduk-duduk.

“Zen, antum liat kamera ana nggak?.” Bang deni bertanya pada bang Zenal masih dengan nafas tersenggal-senggal sambil meletkkan air ketanah.

“Tadikan sama antum?.” Jawab bang zenal dengan nada bertanya.

“Iya, tadi sih sama ana, tapi pas beli air nggak ada, mungkin tinggal kali pikir ana, makanya ana nanya sama antum.” bang Deni menjelaskan dengan nada penuh kekhawatiran. Maklum kameranyakan kamera mahal, beli disaudi pas musim haji dua tahun yang lalu. Jadi wajarkan khawatir.

“Tapi ana nggak liat, mungkin diantara teman-teman ada yang liat kali.” Sambung bang Zenal.

Setelah ditanya semuanya geleng-geleng, termasuk aku. Tapi baru saja akan melanjutkan duduk tiba-tiba aku teringat pada anak kecil berbaju merah kumal, mengenakan celana jeans, lengkap dengan sepatu putih bolong-bolong pada setiap sisinya. Membawa sesuatu berwarna hitam, langkahnya keburu-buru gitu.

“Apa dibungkus kotak hitam bang?.”aku coba angkat bicara.

“Iya, antum lihat wan.” bang Deni menghampiriku.

Lalu kuceritakan semuanya pada bang Deni, lengkap dengan ciri-ciri anak tersebut.

“Yang benar Wan” bang Deni kaget dan agak kurang percaya.

“Iya bang, pas pergi buang air tadi, ana berpas-pasan dengan dia, ana hanya lihat sekilas dan nggak terlalu ambil pusing, habis kebelet sih!”

“Apa mungkin dia?.” Bang Deni ngomong sendiri.

“Emangnya ada apa bang?” tanyaku agak sedikit penasaran.

“Gini…, pas abang pergi beli air juga ketemu sama orang yang antum ceritakan, karna jalan yang kurang hati-hati lihat sana-sini, dan diapun jalannya kencang, akhirnya abang tabrakan.” bang Deni menjelaskan dengan singkat padat, mungkin di yang ngambil kali ya?.” Tanyanya padaku.

“Nggak tau bang!,” sambil mengangkat bahu,

“Bagaimana kalau kita lapor mabahis aja?.” Usulku pada bang Deni.

“Iya, ide yang bagus.” Sahut bang Zenal yang sejak tadi jadi pendengar setia kami.

Kebetulan kantor mabahis terletak tidak begitu jauh dari tempat kami melepas lelah setelah main bola, hanya berjalan beberapa menit saja kami telah sampai didaun pintu kantor jaga.

“Assalamu’alaikum.” Kami memberi salam pada Mabahis yang lagi baca koran.

“Wa’alaikum salam!.” jawab Mabahis tersebut ramah.

“Silahkan masuk!.” sambungnya.

“ada yang bisa saya bantu.”Sambil melipat koran yang belum selesai dibaca.

Akhirnya bang Deni menceritakan panjang lebar hal ihwal perihalnya. Mabahis tersebut angguk-angguk, tanda paham apa yang diceritakan bang Deni. Lalu nampak ia mengeluarkan sesuatu dari dalam laci;

“Apa ini benda yang kalian cari?.” Sambil mengangkat benda hitam itu dan menyodorkannya pada bang Deni.

Setelah diteliti, “Benar Pak, ini yang kami cari.” Bang Deni menyahut dengan hidung mekar dan senyum mengembang, ciri khasnya tatkala lagi senang.

“Terima kasih ya Pak!.” Sambil memasukkan kamera Digital kedalam kotaknya kembali.

“Kalau kami boleh tau, gimana ceritanya bapak sampai menemukan benda ini?,” bang Deni bertanya penasaran.

“Jadi begini!.” Pak Mabahis mulai menjelaskan;

“Pas saya lagi duduk-duduk baca koran, tiba-tiba ada anak kecil berpakain seperti yang kalian sebutkan datang menghampiri dan memberikan benda ini. Ini punya siapa Tanya saya pada dia, akhirnya ia menceritakan kalau benda ini dia temukan ditaman dekat mesjid. Waktu itu ia bertabrakan dengan orang Indonesia yang kurang liat-liat, dan setelah orang itu pergi ia melihat benda hitam ini tertinggal, pas mau memberikan pada orang tersebut tapi tak dilihatnya lagi, dan dia sudah berusaha mencari, tapi tidak ketemu, karena keburu-buru mau pulang ngantarin obat untuk ibunya yang lagi sakit, akhirnya ia berikan pada saya. Jadi gitu ceritanya.” Pak Mabahis menjelaskan sambil menggeser duduk.

Kami semua terharu mendengarnya. Mana kami telah berburuk sangka lagi!.

“Makanya lain kali hati-hati membawa barang. Untung anak yang nemuin jujur, coba kalau nggak?, mungkin tidak kembali lagi.”

Kami hanya angguk-angguk paham. Malu juga sih, dinasehatin pak Mabahis, bukan malu karna isi nasihatnya tapi malu karna kecerobahan.

“Lain kali kami akan hati-hati, terima kasih yang banyak ya pak dan tolong sampaikan juga sama anak yang telah menemukan, ungkapan terima kasih kami sedalam-dalamnya, semoga ibunya cepat sembuh.” Bang Deni yang ngomong lho ana ama bang zenal diam aja, jadi Supporter.

“Alhamdulillah akhirnya ketemu ya bang.” Kataku pada bang Deni, sambil berlalu meniggalkan kantor pak Mabahis yang baik hati semoga rizkinya terus bertambah dan jadi orang kaya baik hati. Amiin.

“Iya, alhamdulillah , ternyata kita bertanya pada orang yang tepat.” Jawab bang deni singkat.

Waktu trus berlalu begitu cepat tanpa terasa kami tlah setengah harian penuh di Ism’iliyah dan harus berpisah.

“Ayo cepat keretanya sebentar lagi mau beangkat.” Bang Rois kembali memberi aba-aba seperti akan berangkat tadi pagi.

Kali ini seratus dua puluh kilo meter perjam kukayuh kaki yang penuh energi.

“Eh, salah bukan kesana, kesini.” Teriakku pada teman yang ngambil arah berlawanan dengan arah kereta menuju Zagazig.” Merekapun membalikkan badan kearahku.

“Ayo lebih cepat lagi.” Teriak Tedi dari dalam Kereta yang mulai berjalan perlahan.

“Ah, hampir saja. Terlambat satu menit…? tinggal deh di Isma’iliyah.” Gumamku, sambil ngelap keringat yang bercucuran.

Selamat tinggal Isma’iliyah yang indah lain waktu kita bertemu lagi, kami tidak akan melupakan keelokanmu. Daa……………aa!.
Postingan Lama Beranda
  • Recent Posts
  • Comments
Advertisement

Cari Blog Ini

Daily Video


    ShoutMix chat widget

Bagaimana kabar Anda saat ini

Label

Penggal Puisi (50) Kontemplasi (20) Cerpen (14) Jurnalistik (14) Fiqih (6) Opini (6) bilik ilmu (5) Coretan (4) Puisi-ku (3) Jejak (2) Riwayat (2) Rohani (1)

Adalah...

Foto saya
rumah karya
Seorang sosok yang ingin di atas biasa orang. Tapi seringkali tertinggal oleh kereta yang merangkak. Sering tenggelam oleh gerimis penggal malam. Dan selalu tegak, namun tak kalah cepat dari keong. Tetap optimis, karena gerimis sepenggal malam takkan menenggelamkan gunung menjulang.
Lihat profil lengkapku

Arrahmah.com

Memuat...

Inilah.com - terkini

Memuat...

detiknews

Memuat...
  • Islamedia
  • Infopalestina
  • Eramusli
  • Hidayatullah
2010 Simplex Enews. All rights reserved.
Designed by SimplexDesign