
Kampung nan indah dan permai,
Kampuang nan asri berseri.
Dikelilingi bukit barisan,
Rindang pepohonan.
Sungai-sungai mengalir indah,
Dikaki bukit kehidupan.
Bersih, bening tanpa terjamah.
Ikan-ikan berenang tenang,
Bercanda bahagia.
Anak-anak kecil berlari-lari,
Berenang mencari ikan,
dibawah bebatuan.
Kebun-kebun karet berdiri rapi,
Menghias kampuang tambah dicintai.
Kelapa-kelapa sawit berjejer,
Menghidupkan penduduk negri.
Udara sejuk, segar tanpa polusi,
Nikmat bak ditaman Safari.
Penduduk ramah,
Walau bahasa tak enak ditelinga.
Tapi, hati lembut bagai sutera.
Itulah kampungku...
Itulah negriku...
Tempatku membalut rindu,
Tempatku mengadu.
Tempatku dilahirkan,
Tempatku dibesarkan,
Dengan cinta dan kasih sayang,
Dengan tetes air mata dan darah.
Sebuah catatan untukku jaga.
Zagzig,5 Syawal 1428 H / 17 Oktober 2007
Rabu, 18.15 WZ
Udo Iwan
Suatu kebahagiaan yang tak bisa kugambarkan,
Suatu kebahagiaan yang tak bisa kulukiskan.
Tak terangkai dengan kata,
Tak terukir dengan pena,
Hanya bisa kurasa.
Dulu aku hanya bermimpi,
Untuk bisa belajar dinegri para nabi ini,
Sekarang mimpi itu tlah menjadi sebuah kenyataan,
Aku tlah berlabuh disini (Mesir).
Berlabuhnya aku di negeri
Yang serba Antri ini,
Tidak begitu saja mudah!
Amat besar perjuangan yang dilakukan,
Amat besar pengorbanan yang dikorbankan.
Kalau bukan karna kegigihan dan keyakinan.
Kalau bukan karna usaha da doa,
Mungkin, mimpi itu hanya tinggal mimpi,
Mimpi yang takkan pernah terijabahi.
"Rasa-rasa takkan sanggup ayah dan ibu menyekolahkanmu lagi nak, melihat kehidupan kita yang pas-pasan ini!."
Itulah kata yang pernah beliau ucapkan,
Itulah kata yang pernah beliau layangkan,
Ketika kuutarakan keinginanku ‘tuk kuliah.
Beliau berharap
Selepas sekolah
Aku berhenti sekolah
dan membantu bekerja.
Tapi, aku tak ingin berhenti,
Aku ingin kuliah,
Aku ingin jadi orang,
Orang yang berguna.
Karna keinginanku yang kuat,
Karna tekadku yang bulat.
Beliau tak lantas berputus asa,
Beliau tak lantas menyerah kalah.
Dengan membaca basmallah,
Beliau memulai langkah,
Dengan segala usaha yang diridhoi Allah.
Akhirnya, aku bisa dilabuhkan di Mesir ini,
Di negri yang orang bilang ‘gudang segala gudang’
Dengan cukup perbekalan.
Perjuangan yang begitu besar.
Beliau tak pernah mengeluh aduh,
Tidak ada kata menyerah,
Tak ada kata putus asa,
Yang ada hanya,
bagaimana aku bisa kuliah,
Oh ayah-ibu...
Begitu besar perjuanganmu.
Tak kenal lelah ,
Tak kenal payah.
Aku takkan bisa membalas semua jasa-jasa.
Yang kubisa hanya berdo'a,
Agar jerih payahmu dibalas Allah,
Agar engkau selalu dilimpahkan rahmat-Nya.
Terima kasih ayah-ibu...,
Berkat perjuangan dan kegigihanmu
Dan berkat pertolongan Allah tentunya.
Aku bisa menuntut ilmu,
Aku bisa kuliah
di Negri yang kucita,
di Negri yang kudamba
Semoga Allah membalas semua jasa-jasamu.
Amiin...!
Ungkapan hatiku yang haru pada perjuangan Ayah dan Ibu, untukku menuntut ilmu di Mesir, negri yang kudamba.
Zagazig,14 Juli 2007
Udo Iwa
Suatu kebahagiaan yang tak bisa kulukiskan.
Tak terangkai dengan kata,
Tak terukir dengan pena,
Hanya bisa kurasa.
Dulu aku hanya bermimpi,
Untuk bisa belajar dinegri para nabi ini,
Sekarang mimpi itu tlah menjadi sebuah kenyataan,
Aku tlah berlabuh disini (Mesir).
Berlabuhnya aku di negeri
Yang serba Antri ini,
Tidak begitu saja mudah!
Amat besar perjuangan yang dilakukan,
Amat besar pengorbanan yang dikorbankan.
Kalau bukan karna kegigihan dan keyakinan.
Kalau bukan karna usaha da doa,
Mungkin, mimpi itu hanya tinggal mimpi,
Mimpi yang takkan pernah terijabahi.
"Rasa-rasa takkan sanggup ayah dan ibu menyekolahkanmu lagi nak, melihat kehidupan kita yang pas-pasan ini!."
Itulah kata yang pernah beliau ucapkan,
Itulah kata yang pernah beliau layangkan,
Ketika kuutarakan keinginanku ‘tuk kuliah.
Beliau berharap
Selepas sekolah
Aku berhenti sekolah
dan membantu bekerja.
Tapi, aku tak ingin berhenti,
Aku ingin kuliah,
Aku ingin jadi orang,
Orang yang berguna.
Karna keinginanku yang kuat,
Karna tekadku yang bulat.
Beliau tak lantas berputus asa,
Beliau tak lantas menyerah kalah.
Dengan membaca basmallah,
Beliau memulai langkah,
Dengan segala usaha yang diridhoi Allah.
Akhirnya, aku bisa dilabuhkan di Mesir ini,
Di negri yang orang bilang ‘gudang segala gudang’
Dengan cukup perbekalan.
Perjuangan yang begitu besar.
Beliau tak pernah mengeluh aduh,
Tidak ada kata menyerah,
Tak ada kata putus asa,
Yang ada hanya,
bagaimana aku bisa kuliah,
Oh ayah-ibu...
Begitu besar perjuanganmu.
Tak kenal lelah ,
Tak kenal payah.
Aku takkan bisa membalas semua jasa-jasa.
Yang kubisa hanya berdo'a,
Agar jerih payahmu dibalas Allah,
Agar engkau selalu dilimpahkan rahmat-Nya.
Terima kasih ayah-ibu...,
Berkat perjuangan dan kegigihanmu
Dan berkat pertolongan Allah tentunya.
Aku bisa menuntut ilmu,
Aku bisa kuliah
di Negri yang kucita,
di Negri yang kudamba
Semoga Allah membalas semua jasa-jasamu.
Amiin...!
Ungkapan hatiku yang haru pada perjuangan Ayah dan Ibu, untukku menuntut ilmu di Mesir, negri yang kudamba.
Zagazig,14 Juli 2007
Udo Iwa
Kusendiri berteman sepi,
Pikiran melayang bergentayang.
Bisikan-bisikan halus menjelang,
Kenikmatan Dunia berlintas datang.
Luka lama berdarah lagi,
Tanpa bisa kuobati.
Cucuran darah mengalir indah,
Menjerit hati meronta-ronta.
Iman bertekuk tak berdaya,
Linang air mata sia-sia,
Nafsu menggelora,
Maksiat menjelma.
Nafsu berlalu sudah,
Ribu sesal kini tiba,
Namun tiada guna.
Semuanya terlambat,
Semuanya telah terjadi.
Jangan sampai luka itu berdarah lagi,
Karna sesal tiada arti.
Ketika Nafsu Tertawa.
Zagazig, 7/9/2007
Jum'at, 22.11 WZ
Udo Iwan
Pikiran melayang bergentayang.
Bisikan-bisikan halus menjelang,
Kenikmatan Dunia berlintas datang.
Luka lama berdarah lagi,
Tanpa bisa kuobati.
Cucuran darah mengalir indah,
Menjerit hati meronta-ronta.
Iman bertekuk tak berdaya,
Linang air mata sia-sia,
Nafsu menggelora,
Maksiat menjelma.
Nafsu berlalu sudah,
Ribu sesal kini tiba,
Namun tiada guna.
Semuanya terlambat,
Semuanya telah terjadi.
Jangan sampai luka itu berdarah lagi,
Karna sesal tiada arti.
Ketika Nafsu Tertawa.
Zagazig, 7/9/2007
Jum'at, 22.11 WZ
Udo Iwan
